Muncul ke Permukaan
Welcome back to my blog...
Di post kedua ini, aku pengen cerita soal bagaimana aku berkutat dengan diriku yang ngga ingin terlihat, dikenal orang, hingga akhirnya berani muncul ke permukaan dan berbagi dengan temen-temen semua sekarang ini.
Baru-baru ini aku dikasih kepercayaan untuk jadi narasumber di acara Bimbingan Teknis untuk pelaku UKM. Setelah beberapa kali ku tolak dengan beberapa alasan prinsip, nyatanya qadarullah itu rejekiku, mau ditolak gimana juga kalo sudah waktu dan jatahnya ya tetep akan jadi punyaku. Di momen itu aku sempat meragukan kemampuanku memunculkan diri di depan orang banyak. Berbicara bukan hal sulit bagiku. Sharing sudah pasti bermanfaat, itu hal positif. Tapi sifat dan keputusanku untuk sembunyi jauh dari jangkauan radar, bikin tampil di depan umum itu sulit kulakukan. Orang-orang dekatku tentu sudah paham, ketika berbisnis, aku tidak peduli popularitas, fame, orang ngga perlu kenal aku, mereka hanya perlu kenal Happy Drink & Co nya aja lah. Aku memang ngga sesuka itu sama yang namanya dikenal. Bagi beberapa orang, dikenal/populer itu menyenangkan. Bagiku, terlihat itu ngga enak. Terlihat/dikenal itu mengerikan.
Tapi in the end, momen itu lah yang kemudian jadi titik balik ku, di atas segalanya, sharing itu baik dan memberi kebaikan untuk yang menyampaikan maupun yang mendengarkan. Pertimbangan lain, aku sekaligus ingin menyampaikan ke orang-orang bahwa Happy Drink & Co ini bukan tanpa cela, ngga sempurna. Masih proses belajar juga, aku hanya sudah memulai proses menabur benihnya lebih dulu jadinya sekarang sudah dalam tahap memanen. Selebihnya, sama aja kita, masih bikin salah juga, masih memperbaiki ina itu, masih poles sana sini. Prosesnya belum berhenti.
Ketika sharing kemarin itu, rasanya seperti dapat energi baru. Padahal aku hanya membagi hal-hal yang kulakukan dan kujalani di usahaku aja. Ngga yang gimana-gimana banget gitu juga sih. Apa adanya aja. Terutama momen ketika pandemi terjadi dan menyebabkan beberapa masalah. Melihat peserta yang antusias menyimak, bikin aku happy. Sebelum ini juga ada ketemu salah satu pelaku usaha yang bidangnya mirip dengan Happy Drink & Co, tapi produknya berbeda. Mendengar dia mengakui bahwa dia menjadikan Happy Drink & Co sebagai contoh, selain itu dia juga menyebut bahwa dia ingin apa yang aku lakukan di Happy Drink & Co ini juga ingin dia tiru/lakukan juga di usahanya. Disitu kalau dilihat dari segi positif, ada rasa syukur kepada Allah SWT, bahwa apa yang aku lakukan besar kecilnya ternyata menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain. So, yasudah, bismillahitawakkaltu’alallah.. mari berbagi lebih banyak lagi.
Tentu kita semua paham ya, bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup kita, siapa dan bagaimana orang-orang yang ada di sekeliling kita, kondisi dan situasi tertentu, semua itu berpengaruh besar membentuk dan bahkan merubah diri kita. That’s why menurutku kita ngga bisa menilai seseorang di masa sekarang, hanya berdasarkan pengetahuan kita tentang dirinya yang dulu. People changed. Semua orang berubah. Itu yang aku rasain ketika membaca diriku sendiri.
I was once a bouncy person too. Jaman SMA dulu, aku tu bukan tipe anak baik tapi juga bukan yang bandel-bandel banget gitu, ya biasa lah, waktu itu otaknya belom jadi. Hahaha. Bayangin aja, aku tu pernah saking lagi ‘gila’ nya main sama temen yang seru. Ada pelajaran agama Islam, gurunya santuy banget, saking santuynya membangkitkan jiwa usilku untuk ngisengin guru (tolong jangan ditiru). Waktu itu aku jadi ketua kelas tuh kan, habis ngomandoin temen-temen sekelas buat kasih salam, gurunya mempersilahkan anak-anak yang beragama non Islam untuk keluar. Dan aku, sama beberapa temen lain dengan lempengnya ikut ngeloyor keluar juga dong, tanpa rasa bersalah. Kemana tujuannya? Tentu saja kantin. Jajan dengan riang gembira. Se-absurd itu emang. Kerennya aku selalu lolos dong. Sampe pada suatu hari, di sore hari yang cerah aku disuruh mamak nganterin bekal makanan buat ayah yang lagi di kebon. Sampe di kebon, keliatan ayah tu lagi ngobrol sama orang, dari jauh itu ngga terlalu kentara ya siapa orangnya. Berhubung anaknya juga cuek dan lempeng aja, ngga ada pikiran apapun sama sekali. Pas udah deket dan bisa liat lebih jelas siapakah gerangan si bapak-bapak temen ayah ngobrol tadi, kaget sampe kaki lemes. Tebak dong siapa? Ya dia lah bapak guru Pendidikan Agama Islam yang aku selalu skip kelasnya tiap beliau nyuruh non muslim keluar. Itu sore cerah banget, tapi telapak kaki rasanya beku tuh. Udah deh ini sih alamat suram kehidupan di rumah abis ini, batinku waktu itu. Bener aja, abis itu emang kena omel abis-abisan. “Mau jadi apa kamu, disekolahin bukannya belajar yang bener”. Selebihnya bisa lah ya kalian bayangkan sendiri.
Di keluarga aku dikenal sebagai tante yang menyenangkan. Paling muda, jadinya mainnya masih nyambung lah sama ponakan-ponakan. Kuliah lancar, kerjaan juga bagus, pergaulan juga baik dan menyenangkan. Sampai kemudian masuk babak baru dalam hidup, menikah. Menikah memang adalah satu fase dalam hidupku yang merubah banyak sekali caraku memandang dan menjalani hidup. Bayangin aja, tadinya kan hidup sendiri sesuka-sukanya ya kan, jadi berdua. Belajar buat ngga mikirin diri sendiri, belajar memaklumi bahwa orang dibesarkan dengan nilai yang beda sama kita, belajar buat mengalah, juga memaafkan terus habis itu tetap menyayangi.
Aku sering ngobrol sama temen-temen lama. Ternyata hidup tuh kayak gini ya. Baru ngerti sama yang namanya hidup tu sehabis nikah sih emang. Sebelumnya isinya kan happy and fun aja lah. Ketemu masalah palingan drama kantor, urusan karir, ngga ada drama aneh-aneh. Abis nikah dong, baru terpampang nyata kehidupan yang sebenernya, ada banyak problem ternyata yang harus dipecahkan. Mulai dari urusan ego, urusan kaos kaki, jadwal nyuci, jadwal mandi, boro-boro jatah tidur deh, kelamaan di kamar mandi aja bisa ribut, belom lagi soal rencana-rencana ke depan, anak, uang, dan sebagainya. Fase baru dalam hidup dimulai, proses dewasa yang beda lagi sama ketika ketika menginjak usia dua puluhan atau tamat kuliah.
Ngga semua hal dalam hidup ini bisa kita kendaliin semuanya. Ngga selalu yang kita rencanain dan kita mau, bisa kita dapetin dan terjadi sesuai mau kita. Kita semua juga pasti pernah sekali waktu dalam hidup, ngerasa lost atas diri sendiri, nge-blank dan sejenisnya. Itu semua adalah proses, fase yang mau ngga mau mesti kita hadapi. Kadang butuh waktu yang ngga sebentar untuk bisa kembali bangkit, menemukan diri sendiri lagi, dan bahkan kalau kita beruntung/berhasil, kita bisa reinvent ourself (menemukan diri sendiri yang baru). Ngga semua orang bisa, juga ngga semua orang gagal.
Balik ke soal terlihat/dikenal itu mengerikan. Hidup merubahku menjadi penakut. Takut berbuat salah, takut dipandang buruk, takut malu, takut menyesal, takut gagal, dan takut-takut lainnya. Takut. Insecure. Sementara di luar sana banyak penikmat drama, baik sebagai pelaku, penonton, atau sebagai komentatornya. Masalahnya, orang-orang di luar sana suka berlagak seolah dia tahu sekali siapa kita. Padahal waktu yang kita habiskan sama dia ngga banyak/sering. Sesekali, dan seringkali occasionally. Belum lagi ketika kita berbuat salah, ngga sedikit orang yang merasa berhak menilai, menghakimi dan menghukum. Sudah banyak dan sering banget banget ketemu hal-hal kayak gini. Sekali dua orang bikin salah, lalu kita dengan hebatnya bersikap seakan dia ngga ada baik-baiknya, segala yang baik tertutup sama keburukan ketika kita berbuat salah. Dude, i know it hurts when someone failed/hurt you. Tapi, situasi kita yang jadi korban dari kesalahan orang lain tadi, ngga otomatis bikin kita jadi lebih baik juga dari dia. Auto suci. Ngga gitu. Ngga fair kalo salah dia A, lalu kita akan menghubungkan dengan salah B, C, D dan seterusnya. Sayangnya, that’s just how the worlds rule. Begitulah dunia ini adanya. Inevitable fact.
Sadar akan hal ini, aku pelan-pelan nge-shifting cara berpikirku soal hal-hal yang tadi kusebutkan. Berhubung ngga mungkin juga aku jadi orang suci. Juga ngga mungkin bisa ngendaliin mulut orang lain. Jauh lebih bener aku merubah dan ngendaliin diriku sendiri dong. Dan yeay, pelan-pelan takutnya berkurang. Here we go, aku nge blog nih. Cerita soal hal ini.
Lain waktu aku berkesempatan tampil di depan umum lagi, aku cuma perlu jadi diriku aja, lakukan niatku dengan baik. Ngga perlu menghindari spotlight, ngga perlu takut terlihat, tapi juga ngga mencari panggung lalu pamer drama. Sharing yang baik, insyaAllah jadi amal jariyah. Kalopun aku bikin salah lagi setelah ini, i’ll accept it. That’s just me evolving. Aku salah, bukan berarti aku orang jahat. Begitu juga kamu, kita, bukan begitu? :)
Love,
Ninda
Comments
Post a Comment